Menjadi Ibu Bekerja yang Tenang: 3 Langkah Mengelola Waktu dan Emosi

Pagi itu anak saya yang berusia dua tahun menangis histeris karena sendoknya jatuh, sementara notifikasi meeting sudah berdering di ponsel. Saya sempat membentaknya, lalu menyesali diri sendiri sepanjang perjalanan ke kantor. Momen seperti itu, saya yakin, bukan cuma saya alami. Tekanan antara tuntutan pekerjaan dan kebutuhan anak terasa nyata, terutama bagi kami ibu bekerja di Muarabulian. Tapi setelah bertahun-tahun bergulat, saya menemukan tiga langkah yang benar-benar membantu saya tetap tenang.
Tetapkan Prioritas Tanpa Rasa Bersalah
Dulu sya pikir menjadi ibu baik berarti menyediakan semua waktu untuk anak. Kenyataannya, saya justru kelelahan dan mudah marah. Langkah pertama yang saya ubah adalah membuat daftar prioritas harian. Saya tulis tiga hal paling penting untuk anak dan tiga untuk pekerjaan. Sisanya, saya relakan. Misalnya, saya memilih memasak MPASI sederhana daripada menu bintang lima, atau membiarkan rumah sedikit berantakan demi waktu bermain berkualitas. Rasa bersalah tetap muncul, tapi saya mengingatkan diri: anak butuh ibu yang waras, bukan ibu yang sempurna. Percaya deh, prioritas yang jelas bangeet mengurangi stres.
Manfaatkan Waktu Berkualitas dengan Anak
Bukan kuantitas, melainkan kualitas. Saya menerapkan aturan “no gadget” selama 30 menit setelah pulang kerja. Waktu itu saya fokus mendengarkan celotehnya, membacakan buku, atau bermain balok. Rutinitas kecil ini terbukti mengurangi tantrum malam hari. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, interaksi tatap muka yang hangat sangat mendukung perkembangan emosi anak — jadi saya pastikan momen itu bebas gangguan.

Jangan Lupa Istirahat Sejenak
Suatu kali saya terjatuh sakit karena terus memaksakan diri. Baru sadar, saya tidak bisa mengurus anak kalau saya sendiri kehabisan energi. Saya mulai menyisihkan 15 menit setiap sore untuk minum teh atau sekadar duduk diam. Sebntar saja, tapi dampaknya luar biasa. Suami saya juga turut membantu agar saya bisa tidur cukup. Istirahat bukan prioritas cadangan — ini kebutuhan pokok.

Menjadi ibu bekerja memang perjalanan penuh liku. Dengan prioritas yang jelas, waktu berkualitas, dan istirahat yang cukup, saya bisa hadir lebih sabar untuk anak. Percayalah, langkah kecil ini bertahan lama — dan perlahan-lahan saya mulai bisa mengembaliin energi serta ketenangan diri.
Catatan: sumber resmi